Tampilkan postingan dengan label About People. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label About People. Tampilkan semua postingan

Kelas Menulis dan Berpikir Kreatif

Sedikit bercerita tentang KELAS yang selama hampir tiga bulan kemarin gue ikuti.

KELAS MENULIS DAN BERPIKIR KREATIF (Dasar) sebanyak sepuluh kali pertemuan (setiap hari Sabtu) di Komunitas Salihara (Pasar Minggu Jakarta Selatan).
Gue tahu tentang kelas menulis ini tahun lalu, dari website Komunitas Salihara.
Dan bertekad untuk bergabung di tahun berikutnya (tahun 2017).

Komunitas Salihara ini kegiatan-kegiatannya seperti di Taman Ismail Marzuki. Berbagai macam hal tentang seni, sastra, musik, pameran, teater, dll.
Ada banyak ruangan dengan fungsi berbeda-beda di sini, dan yang paling menarik adalah bangunannya yang instragam-able.

Di komunitas salihara pengajar Kelas Menulis & Berpikir Kreatif adalah AYU UTAMI (penulis yg biasa disebut BILANGANFU).
Sebenarnya gue gak terlalu 'nyambung' dengan beberapa karya Mbak Ayu Utami. Dan memang belum pernah sama sekali membaca bukunya. 😅
Hanya membaca sinopsis dari beberapa novelnya (mungkin next time akan gue coba baca salah satunya).
Beberapa saat sebelum mendaftar gue sempat agak ragu, apa akan cukup memahami cara mengajar Mbak Ayu. Karena (sepertinya) tulisan Mbak Ayu sangat jauh dari yg biasanya gue sukai. Bukan berarti gak bagus, hanya saja bagi gue itu karya yg BERBEDA.

Setiap tulisan (buku/novel/artikel/apapun biasanya memang punya TARGET PEMBACA-nya masing-masing.
Nah maybe—sampai saat ini—gue bukan target pembaca dari novel-novel karya Ayu Utami.
Tapi bisa jadi nanti gue akan sangat suka dan 'nyambung' dengan tulisan-tulisan beliau.
Entah kapan, bisa besok atau mungkin bulan depan. 😊

Sejujurnya gue memang sudah tertarik ikut kelas menulis dari beberapa tahun yg lalu. Gue hampir mendaftar kelas serupa (di tempat lain), dengan pengajar penulis favorit gue (Windy Ariestanty). Namun karena alasan yg crucial (halaaah apa deh itu istilahnya), baru bisa bergabung tahun ini. 😁

Gue mencoba mengenal lebih jauh & lebih dalam sesuatu yg membuat gue 'penasaran' sekaligus nyaman beberapa tahun belakangan ini.
Tanpa target dan harapan pencapaian seperti apa. Hanya ingin mengetahui seperti apa dunia penulisan, dan apakah gue tetap suka setelah mencoba menjalani selama beberapa waktu. Itu kenapa pada akhirnya gue mantap untuk bergabung dengan kelas ini.
Berbekalkan rasa penasaran terhadap dunia tulis-menulis, gue daftar dan berangkat sendiri (mencari tempatnya dan kendaraan untuk menuju ke Salihara).

Apa saja yang diajarkan di kelas menulis ini?
Tentu saja cara yang baik dan benar dalam penulisan.
Kami diberikan tugas setiap minggunya. Menulis Haiku, Kuatrin, Esai, Cerpen. Silakan diklik linknya untuk tahu apa itu HAIKU, KUATRIN, ESAI, CERPEN. Yang menarik, tugas yang kami kumpulkan via email ini dikomentari oleh Mbak Ayu. Sudah bagus atau belum, kurangnya di mana, apakah tanda baca dan ejaan sudah sesuai, struktur cerita sudah cukup kuat atau belum, dan lain-lain.

Jadi bagaimana hasilnya sejauh ini? Gue lebih banyak tahu tentang aturan-aturan penulisan, sehingga membuat gue lebih berhati-hati dalam menulis. Sadar dengan banyaknya kekurangan gue di bidang ini, gue masih akan terus belajar mengenal lebih banyak dan berlatih menulis lebih sering.
Segala sesuatu gak ada yang instan, apalagi sesuatu yang sangat kamu sukai dan inginkan. Jangan terlalu cepat merasa kalah atau gagal, masih banyak waktu dan kesempatan untuk memperbaiki dan mengasah kemampuan.

Membaca membuatmu belajar.
Dan dengan menulis menjadikanmu banyak mengingat hal yang sudah kamu pelajari.

*Maaf nyempil foto #TheMasnyaYangLegendaris. 😁

I Y U T

Iyut (nenek buyut)! Beliau adalah neneknya Ibu. Istri dari pakdhenya nenek gue. Dan Ibu dirawat oleh Iyut dari kecil.
Gue sendiri bahkan lebih sering ke rumah Iyut daripada ke rumah Mbah Dhok (ibunya Bapak). Tidur siang di rumah Iyut paling menyenangkan kala itu. Karena terasa sejuk dengan
banyaknya pepohonan di sekitar rumah.
Gue menangis semalaman di asrama ketika Iyut pergi tahun 2008 lalu.
Semuanya sudah berkumpul di rumah (di Nganjuk Jawa Timur) saat itu.
Besoknya kampus mengizinkan gue pulang selama 3 hari.
Semasa SMA gue sering marah sama Iyut kalau baru bangun tidur udah diajak ngobrol. 
Saat mulai sakit-sakitan Iyut banyak lupa.
Tapi berkali-kali menanyakan gue ada dimana dan bilang kalau handuk gue udah dicuciin.
Ketika Iyut meninggal dan dimandikan, handuk yg dicucinya itulah yg memeluknya untuk terakhir kalinya. 

Dulu Ibu dan Iyut gak selalu akur.
Tapi saat Iyut meninggal, Ibu adalah orang yang menangis paling sering.
Bahkan seingat gue ketika nenek (ibunya Ibu) meninggal, Ibu menangis nggak sebanyak itu.
Ibu adalah seorang cucu yang sudah tua, dan menangis karena ditinggalkan oleh neneknya yang sudah tua.

IBU

Hari ini 6 tahun yang lalu, ibu pergi.
Aku bahkan hampir melupakan hari ini, tanggal ini.
Kemudian aku merenung untuk sesaat.
Begitu banyak yang ingin aku lupakan, sangat banyak.
Teramat banyak yg ingin aku tinggalkan. Kepedihan, luka, duka.
Hey Mom, i miss you!
Setiap hari aku mengingatmu dan kehilanganmu.
Sungguh hari-hari terasa semakin berat tanpa hadirmu, dukunganmu, doamu.
Aku berusaha yang terbaik, meski semuanya terasa tak baik jika tanpamu.
Tanpamu, kadang duniaku terasa kosong.
Seperti berdiri di ruang gelap tak berujung dan tak bertepi.
Tapi aku terus menjalani hidupku, takdirku.
Kadang aku ingin pulang.
Pulang ke rumah dan ada ibu.
Memelukmu...

Bukan Salah Jodoh

I have nothing idea about 'jodoh'. Terkadang itu terasa sangat menyebalkan. Kita bahkan gak harus terlalu memikirkannya meski orang di sekitar kita sering mempertanyakannya. Beberapa waktu belakangan ini rasanya seperti saat bulan-bulan pertama ditinggal Ibu.
Gak ada ide untuk mencari ibu lain. Persis seperti itu situasinya.
Mana mungkin ide mencari Ibu baru adalah solusinya.
Yes, solusi 'kehilangan arah' aku menyebutnya.
Untuk beberapa saat, hidup benar-benar tak tentu arah. Semacam gak ada 'misi' lagi.
M*g* seperti Ibu untukku. Pusat dunia setelah Ibu pergi. Tempat di mana aku ingin berbagi seluruh hidup. Tempat yang selalu membuatku ingat pulang. Tempat dimana aku ingin berkeluh-kesah. Tempat menenangkan dan membuatku nyaman.
Begitu pikirku.
Kemudian saat dia menemukan 'tempat nyaman' untuknya, dan itu bukan aku. Aku berhenti, terpaksa berhenti, harus berhenti! Karena ini batasnya.
Ini bukan sekadar 'patah hati'. Aku kehilangan 'lentera'. Lentera yang memberikanku cahaya. Padahal aku selalu mengikutinya bertahun-tahun. Ternyata itu adalah lentera untuk orang lain. Aku yang salah arah.
Ya, aku yang salah.
Lalu aku bingung karena sudah terlalu jauh dari mana-mana. Terlalu gelap dan sunyi bila aku menuju ke arah sebaliknya. Aku memutuskan berhenti di tempatku berdiri, sambil tetap mencoba mencari 'lentera' lain.
Berharap dan terus berharap.
Aku berharap 'lentera' itu akan mengenaliku, mencariku, dan tak berhenti di tempat sepertiku.
Untuk para sahabat yang telah menemukan lenteranya, congratulations 'gaeeeeeess'. Kalian layak mendapatkannya.
Aku yang belum layak...
Semoga lentera kalian selalu menyala dan menyilaukanku. Sehingga aku tidak merasa terlalu dingin di sini, di  tempatku berdiri.
Ah kalian membuatku tersenyum iri.

HILANG

Gue bukan orang yg selalu berjalan di jalur yang benar.
Taat & patuh sama agama apalagi.
Dan gue bukan orang yang gak menyadari kesalahannya & merasa paling benar.
Tapi gue juga bahkan bukan orang jahat ataupun kriminal.
Gue tahu gue kecil di mata Tuhan, gue tahu sama sekali gak ngaruh buat Tuhan meskipun gue gak patuh.
Gak ngaruh bahkan kalau Tuhan kehilangan satu orang seperti gue.
Gue merasa gak berguna dan terabaikan.
Gue selalu berakhir putus asa saat gue mencoba kembali,
dan itu terjadi berulang kali.
Gue gak melakukan kejahatan terhadap orang lain, gue melakukannya ke diri gue sendiri.
Gue berharap Tuhan akan menolong gue pada akhirnya.
Tapi Tuhan PHP, gue tetap dibiarkan sendirian.
Padahal Tuhan tahu, gue gak suka sendiri & kesepian.
Rasanya gue mulai lelah selalu ketemu jalan buntu.
Dan Tuhan entah ada dimana?
Dan Tuhan entah akan memberi pertolongan-Nya kapan?
Gue terus bertanya, mengapa ciptaan gagal kayak gue ini ada?
I miss you mom!
Aku selalu berpikir,
"Ahh andai bisa bertukar tempat denganmu".
Sungguh, itu cinta terakhirku untukmu.

T E R S E S A T

Aku berpikir tentang dunia "saling-melengkapi".
Tentang pernikahan yang gak selalu berjalan sesuai rencana.
Kadang ada sesuatu yang keluar jalur.
Sesuatu hal yang gak benar-benar kita rencanakan.
Hanya terjadi begitu saja.
Mungkin si wanita (yang memang secara sifat lebih sensitif) terlalu cinta hingga tak sengaja semacam mengekang pasangannya, posesif.
Istri beranggapan itu bentuk rasa cinta, suami menangkap arti lain.
Dicurigai & gak dipercayai oleh istrinya, itu pemikiran si suami.
Si pria sebagai pihak yg tertekan akan keposesifan & kecurigaan pasangan, dia merasa sesak dengan pernikahannya.
Atau situasi yang sering terjadi di era modern sekarang ini.
Wanita karir, hampir sebagian besar waktunya habis di tempat kerja.
Suami merasa perannya dalam rumah tangga gak terlalu penting, karena istrinya sangat mandiri & bisa memenuhi kebutuhannya sendiri pula.
Mungkin sebenarnya si istri sangat merasa beruntung memiliki suami yg mencintainya dan mensuportnya dengan tetap mengizinkannya bekerja.
Tetapi suaminya terlanjur merasa tersingkir, dan berujung mempertanyakan kehidupan pernikahannya.
Lalu di situasi yang sama, saat para suami mulai kehilangan arah.
Mereka tersesat & menemukan kebahagiaan lain di luar sana.
Beberapa ada yang tersesat sampai akhir.
Namun ada juga yang kembali menemukan jalan pulang, kehidupan pernikahannya.
Yang aku bingungkan dan pertanyakan hingga hari ini adalah kenapa saat para pria (oke, mungkin juga wanita) tersesat di dalam pernikahannya, mereka selalu mencari pembelaan & menuding pasangan sebagai pihak yang juga harus disalahkan.
Salah karena terlalu posesif,
salah karena terlalu sibuk,
salah karena terlalu mandiri, dan lain-lain.
Bukankah harusnya mereka merasa (sangat) bersalah karena telah memilih jalan yang gak benar?
Bukankah mereka harusnya tahu bahwa itu adalah hal yang jelas amat salah dalam pernikahan?
Bukankah rumus dasar hidup harusnya saat orang lain salah, kita tak perlu membalas dengan hal yg salah juga?
Gak bisakah mereka bilang,
"aku salah, aku yang tersesat dan meninggalkanmu sendirian. Aku pendosa karena telah mengingkari janji pernikahan yang aku sepakati sendiri. Aku minta maaf."?
Why sih dunia pernikahan gak bisa sejujur itu?
Apa adanya.
Saat salah, ya ngaku salah & minta maaf.
Kenapa harus ditutupi dengan kesalahan orang lain?

PERNIKAHAN (lagi?)

Pernikahan....

Yes, entah kenapa tahun 2016 ini bahasannya seputaran wedding.

Pernikahan yang ditunggu-tunggu.
Pernikahan yang udah terbayang sebelumnya.
Pernikahan yang bikin deg-degan.
Pernikahan yang ngagetin.
Pernikahan yang mengagumkan.

Sejujurnya ini bulan yang entahlah banget buat gue.
Sedih tapi gak mau sedih, senang tapi berasa sedih (kok gue semacam alay deh, plin-plan).

Sebuah pernikahan...
Pertama kali gue mikir tentang pernikahan adalah (emm....) sekitar 3-4 tahun yang lalu.
"Mungkin gue akan menikah tahun 2015".
"Ohh oke, mungkin 2016".
"Ya 2017 pun bolehlaaaahh".

Terakhir beberapa bulan yang lalu gue coba iseng ngecheck di aplikasi Facebook, hasilnya gue (mungkin) menikah di usia 29 tahun.
"Not bad lah, belum kepala 3".

Kemudian gue mulai berpikir serius.
Apa sih yang membuat seseorang yakin untuk menikah, kapan tepatnya seseorang yakin untuk menikah?
* Umur yang udah pas, atau maybe kelewat pas.
* Calon yang klik banget, saling melengkapi istilahnya.
* Desakan keluarga , mama minta cucu.
* Sindiran teman, kapan nyusul?
* Pasangan yang udah siap, sekalipun kitanya belum cukup siap.
* Tabungan udah cukup, dan kebetulan calon udah ada.
* Udah pacaran lama, nunggu apalagi?
Dan lain-lain

Ada yg udah pacaran lama, udah tunangan, akhirnya malah putus (gak jadi nikah).
Ada yang udah sangat yakin bahwa he/she is the one, tapi malah si target merasa "you're not the one for me".

Cinta bukan selalu tentang perjuangan atau saling menerima, tapi juga tentang bertahan dan tulus memberi.
Berjuang tanpa bertahan, akan jadi sia-sia dan percuma.
Selalu hanya menerima tanpa mau memberi, akan berakhir dengan hubungan yang egois dan berat untuk dijalani.

Percayalah jodoh itu bukan tentang siapa cepat dia dapat, tapi lebih kepada siapa yang tepat dia yang dapat.
Bukan juga tentang siapa yang lebih lama berada di samping kita, tapi siapa yg rela selamanya berada di samping kita.

Jodoh bukan sekedar keberuntungan, tapi itu adalah sesuatu yang sesuai dengan yang Tuhan sudah rencanakan.
Gak akan keliru, tertukar, terpaksa, salah tempat, dan salah waktu.
Pernikahan akan terjadi di saat yang tepat sesuai dengan apa yang telah Tuhan tuliskan untukmu, jalan takdirmu.
Dan bukankah seharusnya Tuhan adalah satu-satunya penunjuk jalanmu, di hidupmu?

Anyway.....
Happy wedding RAKHMADHONA & IBNUL!
Hanya takdir yang bisa menyatukan dan memisahkan kalian.
Everlasting yaa!

AMIIIIN!

Yang Bikin s̶i̶n̶g̶l̶e Malas Pergi Ke Kondangan

Sebagai single sejati  k̶u̶r̶a̶n̶g̶ bahagia, sejujurnya hal paling malesin pergi ke kondangan adalah...........
Bukan karena gak ada temen, juga bukan karena gengsi dateng tanpa pasangan.
Tapi karena pernikahan sering bikin dia waswas.
"Duuuhh gue kapan ya? Calon suami mana nih calon suami? Tanggal berapa sekarang, tahun berapa, beras sekilo harganya berapa?
Umur gue berapa, siapa aja di sini yg belum nikah selain gue? Ehh busyeeeet kaki gue gak napak! OMAIGAAAATT!! "
*Ternyata gue udah jadi hantu. Bunuh diri barusan pas ngisi buku tamu di depan.
Oke fine, itu imajinasi tingkat k̶u̶r̶a̶n̶g̶ tinggi.
Finally gue sadar ada di tengah2 orang yg udah nikah, akan menikah, udah nikah 2x, udah punya anak 3, udah punya anak tapi belum nikah, nikah belakangan yg penting 'nabung' duluan, dan lain-lain dan sebagainya.
GUE   MAKIN    PANIK   d̶a̶n̶ ̶n̶g̶e̶n̶e̶s̶!
Yes, itu yg paling bikin suasana pernikahan terasa gak nyaman dan mencekam!
Pulangnya gue sendirian, mikir!
"Di sepanjang jalan ini, yg senasib & sepikiran sama gue ada berapa orang?
Jodoh gue dimana ya? Kondangan sama siapa ya?
Ketemu sama guenya kapan?
Boleh minta ketemu sekarang aja gak? Plis pliss pliiiiiiss!!"
*Maaf kebawa perasaan.
Dan gak sampai di situ. Gue masih akan berasa 'diteror' hingga beberapa hari ke depan.
Mellow, galau, ngelamun, males ngapa-ngapain, males mandi, denger lagunya wali yg 'cari jodoh'.
Oke fine, yg terakhir gak mungkin! Gue gak suka lagu itu.
Dan jangan coba-coba nyanyiin lagu itu di depan gue!
*Lagunya suka nempel di otak & gak ilang-ilang.
So, buat yg belum nikah & belum ada rencana mau nikah dalam waktu deket.
S E T U J U      gak sama gue??
Kalau setuju, mungkin kita jodoh! 😀 #KHUSUSCOWOK!!!

Cuntil's Wedding (Tentang Cinta)

Mungkin cinta memang memilih orang2 yg percaya cinta.
Membuatnya menjadi satu & menguatkan cinta masing-masing.
Menyempurnakan suatu hubungan yang gak hanya sekedar persoalan cinta.
Sungguh aneh bahwa ternyata level tertinggi dari cinta bukan tentang 2 orang (yg saling mencintai), tetapi justru tentang banyak orang di sekitarnya yg turut merasa bersyukur & berbahagia.
Mungkin cinta bersifat menyebar & mewabah seperti virus atau bakteri.

Ini bukan hanya tentang orang yg tepat di waktu yg tepat.
Tetapi juga tentang komitmen yg tepat.
Gak pernah terlalu cepat, ataupun terlalu lambat.
Hanya "tepat".

Happy Wedding pasangan "tepat".
        Sukma & Hendri
        25 Oktober 2015




Selamat Tanggal 24!

Menyebalkan memang... Sepertinya setiap tahun di bulan April menjadi sangat mengganggu bagi gue. Sudah bertahun-tahun belakangan ini. Ada semacam perasaan 'takut' menghadapi tiap detik di bulan April.
Gue setuju dengan pernyataan beberapa orang bahwa pertambahan umur di 20 tahun ke atas menjadi agak tidak menyenangkan bila dibandingkan dengan saat menjelang 20 tahun. Maybe karena itu pertanda kamu sudah semakin menua. Tua...
Buat gue bukan kata itu yg tampak mengerikan. Bukan pula perubahan fisik yg banyak orang pusingkan itu. Toh 25an belum terlalu merepotkan untuk panik karena perubahan fisik. 25an justru lagi cantik-cantiknya, ya gak sih? Hahaaaa.. #okay #abaikan!
Anyway, gue takut kesepian!
Sepertinya itu pernyataan paling pas untuk tahun ini.
Setiap tahun, perasaan itu semakin kuat. Kesepian bukan berarti sendirian. Hanya saja gue merasa sepi bahkan saat sekeliling gue penuh sesak dengan banyak orang. Apalagi mendekati pertambahan umur gue di bulan April, terasa semakin mencekam (seperti kalau setting film horor, hantunya sudah selangkah di depan kita).
Lalu, H-1 gue akan sibuk mencari tempat ramai untuk gue habiskan seharian besok. Yes, gue panik!  Gue gak mau melewatkan hari itu dengan berada di rumah (tepatnya di kamar) sendirian, gue akan semakin merasa kesepian.
Gue sibuk mencari keramaian yg entah sejak kapan justru selalu bisa membuat perasaan gue lebih nyaman, dan    d a m a i . . .
Gue menyebut ini "keramaian yg mendamaikan!"
Ini minggu ke-4 di bulan April, hari ke-24.
Dan gue    k e s e p i a n !
Berbeda dengan rumor & teori yg ada, ternyata kesepian lebih mengganggu dibanding kebisingan.
Serius, lw akan jengah mendengar banyak keluhan di otak lw saat sedang kesepian. Yes, very annoying!
Lw akan menjadi lebih sensitif, sampai-sampai suara jarum jam terdengar sangat jelas. Suara jarum jam & detak jantung adalah kombinasi 'sepi' yg sempurna. Backsound paling mengganggu....
Kemudian gue mencoba mulai menelusuri, sejak kapan gue sefrustasi ini terhadap perasaan kesepian.
Gue teringat beberapa hari setelah Ibu pergi. Itu pertama kalinya gue merasa rumah sangat sepi. Sepi sampai-sampai suara angin yg masuk dari pintu depan terdengar begitu bising. Dan yaaa, of course suara jarum jam yg mengganggu itu.
Gue terbayang suara Ibu saat sedang mengobrol dengan Bapak, suara Ibu saat sedang mengobrol dengan pembeli di toko kami, suara Ibu saat sedang mengomel sambil menyapu lantai rumah, suara Ibu saat menginterogasi gue tentang bagaimana ujian di sekolah hari itu. Langkah kakinya pun masih sangat jelas di ingatan gue, itu langkah kaki khas Ibu. Langkah yg berbeda dari yg lain.
Gue merindukan semua suara itu.
Ternyata suara yg mendamaikan adalah  I B U . . .
Gue baru menyadarinya justru setelah suara itu tinggal kenangan.
Dan gue sangat kesepian, karena Ibu gak akan pernah tergantikan.
Suara mendamaikan itu belum pernah terdengar lagi hingga sekarang.
Hey Mom, terima kasih untuk 26 tahun ini.
Ahh, gimana ini?
Aku kesepian... Sangat kesepian!!

Selamat Saling Menemukan! 19 April 2015

"Love is when he gives you a piece of your soul, that you never knew was missing."
Menemukan.. Apa yg kamu rasakan tentang perasaan 'menemukan'?
Selalu ada perasaan bahagia tertahan saat kita menemukan sesuatu.
Bahagia, bersyukur, merasa beruntung, dan terpilih dalam satu waktu.
Suatu hari gue gak sengaja menemukan buku catatan kecil yg pernah gue tulis saat masih SMA.
Itu notebook biasa, salah satu isinya yg membuat gue tersenyum pahit adalah catatan tentang jadwal ujian kelas XII IA 1 (gue dulu kelas XII IS 3 anyway).
Menemukan kenangan masa lalu, (harusnya) bisa membuatmu maju & terus berkembang.
Karena hidup manusia bukan tentang masa lalunya, tapi bagaimana dia mampu melepaskan masa lalu dan melanjutkan langkah jauh ke depan.
Menemukan cinta, seperti manusia & bayangannya. Ada saat untuk mereka bertemu & dipertemukan oleh waktu.
Seperti cara langit menyapa bumi melalui tetes hujan. Pertemuan yang tak pernah benar2 mereka rencanakan, hanya semacam takdir Tuhan bahwa itu adalah saat yg tepat untuk mereka saling menemukan.
Menemukan teman, sahabat, pasangan & menyadari bahwa betapa ajaib cara Tuhan mempertemukan 1 orang dgn orang lainnya.
Memisahkannya, dan kemudian membuatnya saling menemukan.
Beberapa ada yg menemukan orang baru, tapi tak jarang yg menemukan orang lama.
Orang lama yg ternyata dipersiapkan Tuhan untuk langkah barunya.
Seperti gue yg menemukan notebook lama gue, pasti ada rencana Tuhan yg sudah tertata rapi tepat di depan kaki kita.
Bersiap untuk langkah baru & cerita baru.....
Happy Wedding my superb bestiest SOVINA & ASEP!
Everlasting!

Timeline

follow!!!