Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kelas Menulis dan Berpikir Kreatif

Sedikit bercerita tentang KELAS yang selama hampir tiga bulan kemarin gue ikuti.

KELAS MENULIS DAN BERPIKIR KREATIF (Dasar) sebanyak sepuluh kali pertemuan (setiap hari Sabtu) di Komunitas Salihara (Pasar Minggu Jakarta Selatan).
Gue tahu tentang kelas menulis ini tahun lalu, dari website Komunitas Salihara.
Dan bertekad untuk bergabung di tahun berikutnya (tahun 2017).

Komunitas Salihara ini kegiatan-kegiatannya seperti di Taman Ismail Marzuki. Berbagai macam hal tentang seni, sastra, musik, pameran, teater, dll.
Ada banyak ruangan dengan fungsi berbeda-beda di sini, dan yang paling menarik adalah bangunannya yang instragam-able.

Di komunitas salihara pengajar Kelas Menulis & Berpikir Kreatif adalah AYU UTAMI (penulis yg biasa disebut BILANGANFU).
Sebenarnya gue gak terlalu 'nyambung' dengan beberapa karya Mbak Ayu Utami. Dan memang belum pernah sama sekali membaca bukunya. 😅
Hanya membaca sinopsis dari beberapa novelnya (mungkin next time akan gue coba baca salah satunya).
Beberapa saat sebelum mendaftar gue sempat agak ragu, apa akan cukup memahami cara mengajar Mbak Ayu. Karena (sepertinya) tulisan Mbak Ayu sangat jauh dari yg biasanya gue sukai. Bukan berarti gak bagus, hanya saja bagi gue itu karya yg BERBEDA.

Setiap tulisan (buku/novel/artikel/apapun biasanya memang punya TARGET PEMBACA-nya masing-masing.
Nah maybe—sampai saat ini—gue bukan target pembaca dari novel-novel karya Ayu Utami.
Tapi bisa jadi nanti gue akan sangat suka dan 'nyambung' dengan tulisan-tulisan beliau.
Entah kapan, bisa besok atau mungkin bulan depan. 😊

Sejujurnya gue memang sudah tertarik ikut kelas menulis dari beberapa tahun yg lalu. Gue hampir mendaftar kelas serupa (di tempat lain), dengan pengajar penulis favorit gue (Windy Ariestanty). Namun karena alasan yg crucial (halaaah apa deh itu istilahnya), baru bisa bergabung tahun ini. 😁

Gue mencoba mengenal lebih jauh & lebih dalam sesuatu yg membuat gue 'penasaran' sekaligus nyaman beberapa tahun belakangan ini.
Tanpa target dan harapan pencapaian seperti apa. Hanya ingin mengetahui seperti apa dunia penulisan, dan apakah gue tetap suka setelah mencoba menjalani selama beberapa waktu. Itu kenapa pada akhirnya gue mantap untuk bergabung dengan kelas ini.
Berbekalkan rasa penasaran terhadap dunia tulis-menulis, gue daftar dan berangkat sendiri (mencari tempatnya dan kendaraan untuk menuju ke Salihara).

Apa saja yang diajarkan di kelas menulis ini?
Tentu saja cara yang baik dan benar dalam penulisan.
Kami diberikan tugas setiap minggunya. Menulis Haiku, Kuatrin, Esai, Cerpen. Silakan diklik linknya untuk tahu apa itu HAIKU, KUATRIN, ESAI, CERPEN. Yang menarik, tugas yang kami kumpulkan via email ini dikomentari oleh Mbak Ayu. Sudah bagus atau belum, kurangnya di mana, apakah tanda baca dan ejaan sudah sesuai, struktur cerita sudah cukup kuat atau belum, dan lain-lain.

Jadi bagaimana hasilnya sejauh ini? Gue lebih banyak tahu tentang aturan-aturan penulisan, sehingga membuat gue lebih berhati-hati dalam menulis. Sadar dengan banyaknya kekurangan gue di bidang ini, gue masih akan terus belajar mengenal lebih banyak dan berlatih menulis lebih sering.
Segala sesuatu gak ada yang instan, apalagi sesuatu yang sangat kamu sukai dan inginkan. Jangan terlalu cepat merasa kalah atau gagal, masih banyak waktu dan kesempatan untuk memperbaiki dan mengasah kemampuan.

Membaca membuatmu belajar.
Dan dengan menulis menjadikanmu banyak mengingat hal yang sudah kamu pelajari.

*Maaf nyempil foto #TheMasnyaYangLegendaris. 😁

Jangan Menatap Langit

Sungguh ini bukan waktunya merapikan rambut yang tersibak oleh angin.
Sedikit berlari, ia memasuki tempat tujuannya.
Antrian panjang di samping kirinya seolah tak dilihatnya.
Ia terus berjalan sambil sesekali menahan nafas, gugup.
Ia teringat betapa ia berpikir keras 3 jam yang lalu. Berpikir dan mempertimbangkan untuk berangkat atau tidak.
Tepat 2 jam sebelumnya, akhirnya ia putuskan untuk pergi.
Ke tempat yg tak disukainya ini. Tempat perpisahan dan pertemuan.
Tempat di mana ia selalu menahan tangisnya saat akan meninggalkan atau ditingalkan orang-orang yang disayanginya.
Ia kemudian menyimpulkan, mengapa ibunya tak pernah mengantarnya ke stasiun.
Sama sepertinya, ternyata ibunya pun takut akan perpisahan.

PATAH HATI DIAM-DIAM

"Mohon maaf, aku sudah punya wanita yang ingin aku nikahi kalau sudah siap nanti. Aku tidak pacaran...bahkan dia sendiri tidak tahu apa yang aku rasakan. Buat apa dia tahu kalau aku belum siap nikah?"
Saat itu, aku bahkan tak menangis & tak juga berteriak histeris.
Aku menghela nafas, seolah melepaskan semua yang ada selama 7 tahun ini.
Aku patah hati diam-diam.
Seperti kata penulis favoritku, kak @Windyariestanty.
"Seseorang bisa saja jatuh cinta diam-diam, tetapi saya ternyata mengalami patah hati yang diam-diam itu."
Rasa sakitnya sih tetap sama, menurutku.
Hari itu, aku patah hati diam-diam.
Tak satupun aku biarkan tahu tentang aku yang patah hati, bahkan aku rasa tembok kamarpun hampir tak tahu hal itu.
Berhari-hari berlalu begitu saja, aku masih tak menangis.
Sejujurnya akupun telah siap mendengar kalimat itu dari mulutnya suatu saat nanti, dari beberapa tahun yang lalu.
Hanya saja, susah sekali memancingnya mengungkapkan hal itu. Sehingga aku harus menjatuhkan harga diriku sebagai wanita, selama berkali-kali.
Jawaban itu sudah pasti aku sudah pernah bayangkan dalam pikiranku.
Harusnya akupun telah siap mendengarnya.
Tetapi inilah manusia, pada akhirnya tetap merasakan sakit bahkan saat yg menyakiti adalah dirinya sendiri.
Aku patah hati, karena diriku sendiri.
Aku sangat ingin menangis saat itu, tetapi entah mengapa seseorang yang harga dirinya telah hilang seakan menjadi mati rasa.
Dalam mati rasaku, aku tak merasa menjadi semakin kuat.
Justru sebaliknya, ini seperti luka yang bahkan sudah tak mau menutup lagi.
Luka ini akan terus menjadi sesuatu yang mengingatkanku untuk tidak lagi mengingatnya.
Kenyataan paling menyakitkannya adalah......
Bahwa ternyata seseorang yang selama 7 tahun ini membuatmu menjadi begitu kuat, merupakan orang yang pada akhirnya membuatmu jatuh dan teramat rapuh.
Sejujurnya aku tak benar-benar berterima kasih, tak juga serius meminta maaf kepadamu hari itu.
BODO AMAT!

Move On

-->

CINTA



Hari ini adalah hari yang sangat aku tunggu… 4 tahun nggak ketemu temen-temen SMA… Yupz, hari ini ada reuni alumni SMA angkatan 2003-2008. Huuft, deg-deg’an banget rasanya. Kangen, seneng, campur aduk jadi satu…

Owh iapz, aku Dinda. Lulus S1 Psikologi 1 tahun yang lalu, masih sibuk cari pengalaman di salah satu instansi di Jakarta. 1 minggu ini adalah libur hari raya. Seperti biasa, aku gunain buat pulang ke Surabaya. Rumah tempat aku dilahirin, dibesarin, dan sampai akhirnya lulus dari SMA favoritku. Udah pasti banyak kenangan yang nggak bisa dilupain di kota ini. Keluarga, teman, sahabat, dan cinta…..

Hmm, cinta… Mungkin itu adalah salah satu hal yg membuatku deg-deg’an setengah mati menunggu hari ini tiba. Yupz, ada seseorang yang nggak pernah lepas dari pikiranku. Yang selalu aku ingin tahu gimana keadaannya, yang selalu bikin jantung ini berhenti berdetak tiap kali mengingatnya. Udah 5 tahun, bukan waktu yang singkat untuk mencintai. Tapi entah kenapa begitu sulit melupakannya.
Tuhan, disini Engkau pertemukanku dengannya. Di SMA ini….
“Dinda, apa kabar?? Gila, berubah banget deyh kamu”.
Itu Saci, sahabat aku dari SMP. Dan yang disebelahnya, udah pasti itu Syam. Kakak kelasku, sekaligus pacar Saci. Mereka udah pacaran dari kelas 3 SMP. Hmm, feeling aku tahun ini undangan mereka akan segera disebarin ke seluruh antero dunia. Hahahaaa…. Selamat aja deyh Ci, makin langgeng yach….
“Woi anak manja, apa kabar?? Wahh, betah neyh di Jakarta sampe lupa pulang”.
Yang ini mas Ado, temen curhatku 2 tahun belakangan ini. Dulu banget pas aku masih kelas 1 SMA , nd dia kelas 3 SMA aku pernah naksir dia gitu. Heheeee…. Sekarang dia udah balikan sama ceweknya yang dulu. Mereka mau nikah bulan ini. Dan dengan teganya dia minta aku jadi pendamping pengantin pria. Ya ya ya….
Sambil ngobrol sama mereka dan temen-temenku yang lain, mataku terus mencari sosok itu. Udah 4 tahun nggak ketemu, yang aku denger ceyh dia baru lulus tahun ini dan langsung dapet kerja dengan prestasi dia selama kuliah. Hmm, emang dari dulu dia udah hebat ceyh…
“Din, gimana sama cowok kamu?? Kapan rencana sebar undangan??”
“Jiahh, tenang Ci. Nggak akan ngeduluin kamu koq. Hahhay….”
“Diiihh, serius dikit napa…. Kan kita pingin liat dia Din. Udah 1 tahun lebih jadian tapi belum kamu kenalin ke kita….”
“Hehee… Iya maaf… Habisnya dia sibuk ceyh. Kan libur panjang cuma pas lebaran. Nahh, klu lebaran dia juga ada acara sendiri bareng keluarganya. Dia kerumahku aja baru 1 kali, itu juga cuma bentar duank. Ntar deyh kalo udah nikah, aku bawa dia kemana-mana. Heheee…..”
“Ehh Din, itu tuch pangeran yang dari tadi kamu cari-cari… Prince Aga…. Hahahahhhaaa… udah, samperin gieh….”
OMG, itu dia my prince charming… Aga…. Lagi-lagi bumi berhenti berputar, jantungkupun berhenti berdetak….  Cukupkah melihatnya dari jauh??? Dan lagi-lagi dada ini terasa sesak, sakit…. Sama sakitnya seperti 4 tahun yang lalu. Tuhan, cukupkan hanya dengan melihatnya tersenyum dan tampak bahagia. Hanya itu yang kumau….
“Udah Din, samperrrr….. Apa kita aja neyh yang manggil dia kesini??”, Mas Ado membuyarkan lamunanku.
“Yaelahh, ngapain mesti nyamperin Aga. Ogahh banget… Emang eike cewek apaan??? Hohooo”
“Hmm, ntar nyesel loch”..
“Nggak usah dink mas. Tuch liat aja si Dinda, belum berhadapan langsung aja udah berkaca-kaca gitu. Gimana kalo Aga ada di depan dia. Bisa nangis Bombay tuch… gaswat kan kalo udah kayak gitu. Hahhay…” ,ledek Saci….
“Iyahh, emeng bener…  Kalo di depan Aga aku pasti nangis Ci.  Emang enak apa, ketemu setelah 4 tahun dicuekin.. “
Aku Cuma ingin melihatnya dari jauh Tuhan, agar degup jantungku tak terdengar olehnya…
“Ehh Din, sini… Nggak kangen Aga??? Udah lama nggak ketemu kan??”, panggil Aldi. Sahabat Aga dari SMA.
Dan lalu Aga melihat ke arahku sambil tersenyum… Tuhan, rasa apa ini?? Sakit yang tak tertahankan, dadaku mendadak sesak…
“Hai Din, apa kabar???”, ucap Aga sambil menuju ke arahku.
“Emm, baik ceyh. Kamu???”
“Alhamdulillah baik juga… Lama nggak ketemu yakk??? Hehee…. Udah jadi psikolog neyh…”, ledeknya.
“Nggak sehebat kamulah, lulus langsung ada tawaran kerja….”, ganti ledekku.
“Heheee… Cuma masalah keberuntungan koq…”, sangkalnya.
Terasa disini Cuma ada aku dan Aga. Ingin rasanya menebus 4 tahun yang berlalu gitu aja.  Dan apa yang terjadi selanjutnya??? Nggak satupun dari kami yang berbicara. Menghabiskan waktu berjam-jam cuma untuk diem-dieman…
………………………………………………………………………………………
“Din, ngobrol apa aja tadi??? Cieee… Ati-ati CeElBeKa loch..” (ledek mas Ado)
“Hmm, nggak ngobrol apa-apa tuch.. Hehee… Mana your Nyonyo???”
“Hahh?? Bo’ong banget ceyh Din…. Lagi ngrumpi tuch sama temen-temennya.”
“Owhh… Nggak bo’ong koq. Dari tadi ya Cuma diem2an doank…”
Yupz, kami emang nggak ngobrol sepatah katapun. Tapi, entah kenapa aku ngerasa kami udah ngobrol banyak hal. Seakan kami sedang menebus banyak hal yang terlewatkan gitu aja selama 4 tahun ini….
“Makasih yakk… Heheeee….”.
Terakhir hanya kalimat itu yang terucap diantara kami… Dan setelah itu semuanya kembali ke kehidupan masing-masing. Aku yakin akan selalu ada cinta dihatiku dan Aga. Bukankah cinta bisa mendengar tanpa harus berucap sepatah katapun???? Dan yach, bukankah kata ‘terimakasih’ jauh lebih indah dibandingkan kata’maaf’??? 
So, life must go on guys. And I’m moving on…

Aku ingin seperti R.A. Kartini

Aku ingin seperti R.A. Kartini
Siapa yang tidak kenal R.A. Kartini, seorang pahlawan nasional Indonesia, penggagas persamaan hak wanita terhadap pria (baca: emansipasi). Perjuangannya demi mewujudkan cita-citanya sampai titik darah penghabisan. Hmmm, she is a hero…….
Aku ingin seperti kartini. Memperjuangkan hak dan cita-citanya. Yakin dan percaya akan apa yang diinginkannya sekalipun banyak yang menentang. Bukan demi menjadi pemberontak ataupun sekedar pendobrak aturan yang ada. Hanya sekedar memegang teguh apa yang aku pikir itu benar. Tapi aku bukan kartini. Tidak bisa menjadi apa yang selama ini aku inginkan. Hmm, memilih jalan yang kita inginkan memang tidak semudah yang dibayangkan. Karena ada orang yang lebih berhak menuntun langkah kita melebihi diri kita sendiri. Tanpa bermaksud menyalahkan kedua orang tuaku, aku ingin meluapkan apa yang ada dibenakku selama ini. Aku adalah mahasiswi salah satu akademi kebidanan terpandang di Jakarta. Saat ini aku sudah semester 6. Memang, sangat terlambat untuk menyadari bahwa jalan yang aku tempuh selama ini adalah keliru. Tapi, aku ingin seperti kartini. Demi memperjuangkan apa yang aku anggap benar, aku sedikit berbelok dari tuntunan orang tuaku selama ini. Ibuku ingin punya anak bidan, katanya itu adalah masa depanku. Dan aku sebagai kepompong yang harus bermetamorfosis saat ini juga, tidak bisa menentukan apakah tetap ingin menjadi ulat atau berubah menjadi kupu-kupu yang indah.
Ibuku Cuma orang tua yang ingin anaknya berkembang, dengan anggun memperlihatkan keindahan sayapnya pada semua orang. Tapi tahukah kau ibu, apakah anakmu ini bahagia dengan menjadi kupu-kupu dengan sayap indahnya? Atau hanya ingin menjadi ulat sutra yang bahkan orang-orangpun enggan untuk meliriknya?
Aku ingin seperti kartini, menjadi wanita hebat dengan cita-citanya yang tinggi. Mengabaikan cemoohan orang dan pandangan orang serta ketidaksetujuan orang tua tentang cita-cita yang mustahil ia raih. Aku sangat ingin membanggakan dan membahagiakan orang tuaku. Demi mewujudkan mimpi mereka, aku telah merelakan cita-citaku kian menjauh selama hampir 3 tahun ini. Aku bercita-cita menjadi penulis, tapi ibu mau salah satu anaknya menjadi bidan. Aku adalah anak ke-5 dari 5 bersaudara. Memiliki 3 kakak perempuan dan 1 kakak laki-laki. Ke 3 kakak perempuanku telah selesai menempuh pendidikan sarjananya dan sudah pasti terlambat untuk bisa mewujudkan harapan ibuku, sedangkan kakak laki-lakiku yang jelas-jelas sama sekali tidak bisa diharapkan. Akhirnya harapan itu bertumpu padaku, si anak bungsu. Ini tahun ketigaku, membiarkan cita-cita itu terbang menjauh pelan-pelan dan hampir hilang secara perlahan. Kata mereka, cita-citaku tidaklah menjanjikan masa depan. Karena itu menulis hanya kujadikan hobby selama hampir 3 tahun belakangan ini. kesibukan dan rutinitas kuliah membuatku mulai sedikit melupakan cita-cita lamaku. Mungkin karena 3 tahun yang lalu aku masih terlalu belia untuk bisa memperjuangkan cita-citaku, untuk bisa meyakinkan orang tuaku bahwa kekhawatiran dan ketidaksetujuannya akan cita-citaku tidaklah beralasan. Tapi saat itu bahkan kartini masih berusia 12 tahun. Dia bisa dan berani mewujudkan apa yang diinginkannya sampai akhirnya dia melanhjutkan sekolahnya di Betawi, meski agak melenceng dari keinginannya yang semula yaitu melanjutkan sekolah di Belanda. Dia bahkan berhasil mendirikan sekolah perempuan di masa itu. Tuhan, mengapa aku tidak memiliki keberanian sebesar kartini?
“Hidup itu akan indah dan berbahagia apabila dalam kegelapan kita melihat cahaya terang”, salah satu kalimat kartini yang mengena dihatiku. Membuatku kembali berjuang untuk 3 tahun yang telah terbuang.
Hari ini aku menulis lagi. Untuk kesekian kalinya. Mencoba dan terus mencoba menghasilkan sesuatu yang disebut indah. Yach, meski dengan hasil yang belum maksimal. Semua karyaku masih belum bisa disebut indah. Intinya belum ada unsur seninya. Hmm, benar-benar merasa iri dengan orang-orang yang pandai menulis. Bisa menggambarkan sesuatu cuma lewat tulisan tanpa harus melukiskan apa yang ada dibenaknya, benar-benar cukup dengan tulisan. Ahh, aku sungguh ingin seperti kartini……
*****10 agustus 2010***

UNDANGAN

Susah rasanya ngegambarin perasaan gw saat ini. Bisa lw bayangin gk ceyh, dapet undangan pernikahan orang yang berarti banget buat lw selama 4 tahun ??? Aneh… Kenapa mesti gw yang alamin ini semua ??? Apa salah gw coba ???
Hmm, ada selembar kertas lain dalam amplop undangan. Surat???

Assalammu’alaikum wr.wb
Dinda, maaf agak mengagetkanmu hari ini. Maaf beribu maaf… afwan… Saya sama sekali tidak ada maksud buruk, hanya sekedar menyambung tali silaturahmi kita yang telah lama terputus. Undangan ini saya sengaja kirim untuk Dinda untuk berbagi kebahagiaan. Dan perlu Dinda ketahui, Dinda adalah orang pertama yang saya beritahu mengenai pernikahan saya. Seperti yang tertulis dalam undangan, saya dan Syifa akan melangsungkan sunah Rasul bulan depan. Saya dan Syifa kenal melalui cara ta’aruf. Kebetulan ayahnya adalah guru ngaji saya. Syifa tinggal di pesantren dari semenjak SD hingga SMA. Dia kuliah di ITS juga, di fakultas yang sama, jurusan matematika.
Hmm, entah atas dorongan apa saya ingin bercerita ini semua kepada Dinda. Mungkin sebagai sahabat lama, saya ingin Dinda juga merasakan kebahagiaan yang sekarang saya rasakan. Hehee… Maaf ya Din, belum sempat mengenalkan Syifa. Tapi saya yakin Dinda akan sependapat dengan saya mengenai Syifa. Dia wanita yang ceria, selalu tersenyum dan dia wanita yang telaten. Pokoknya kalau Dinda kenal Syifa pasti akan cepet akrab deyh.. Heheee…. Akhir kata, saya harap Dinda bisa hadir untuk ikut mendoakan kami. Akan sangat berterimakasih kalau bisa datang di acara ijab qabulnya juga. Terimakasih sebelumnya….
Teruntuk saudari saya, ukhti Dinda….
Wassalammu’alaikum wr.wb
                                                                                                Ttd
                                                                                                Ilham

Hmm, mesti ngomong apalagi gw??? Dia adalah cowok yang bikin gw tergila-gila selama 4 tahun belakangan ini. Udah berbulan-bulan lost contact sama dia. May be, gw berharap bisa lupain dia dengan gk hubungin dia sama sekali. Nomor HPnya udah gw hapus, di Facebook pun kami udah gk temenan lagi. Sekarang, saat gw denger kabar tentang dia. Setelah sekian lama… Ternyata sebuah kabar mengejutkan.. Yupz, seperti dugaan gw. Anak pesantren, temen 1 kampus, ta’aruf… Apalagi yang mesti gw tanyain kalo bahkan itu udah pernah terlintas dibenak gw, dibayangan gw??? Apa pula yang bisa bikin gw lebih baik dibanding si anak pesantren itu??? Apa gw mesti bahagia, karena gw adalah orang pertama yang dia kasih tau tentang berita pernikahannya??? Hahh, emang bullshit.. Nonsense tuch cinta… Harusnya gw udah bersiap buat hari ini. Biar gk usah se syock ini. Ya Tuhan, berharap ini Cuma mimpi… Apa gw udah salah mencintai seseorang???
Semoga ada perempuan yang bisa menyejukkan hatinya suatu saat nanti…
Mungkin ini adalah keputusan-Nya yang teradil, rencana-Nya yang terindah…
Suatu hari bila tiba saatnya, meski gk bisa bilang turut bahagia, tapi aku akan tetap doain yang terbaik buat kamu…..
Dulu banget, gw pernah ngomong itu ke dia. Dan ternyata sekarangpun gw gk bisa bilang turut bahagia… Maaf Ilham, ternyata mengikhlaskan itu bukanlah hal mudah…

mr.crab

Mr.Crab….. Mesti cerita apa gw tentang dia??? Gk banyak yang gw tau tentangnya. Tapi gw yakin dia cowok yang baik. Andai kami dipertemukan lebih awal… Bukan disituasi sekarang, saat kami sama-sama terluka karena hal ternonsense didunia. CINTA… Hmmm….

Yupz, dia putus sama ceweknya. Dari yang gw denger ceyh, gara-gara masa depan Mr.Crab yang belum jelas. Truz sekarang ceweknya udah jadian sama cowok lain. Emm, cerita cinta yang hampir sama sedihnya dengan cerita cinta gw lah. Meski gw yakin, dia gk akan nangis selama bertahun-tahun kayak gw. Cuma dan hanya untuk menyesali keadaan… Huuuft, kadang ngerasa iri sama kaum adam. Kelenjar airmatanya pasti gk harus bekerja dengan keras, beda cerita dengan kelenjar airmata kaum hawa. Yach, what everlah….

09 April 2010… Ternyata kebawa perasaan itu gk enak yak?? Setelah sadar kalo ini Cuma perasaan sementara, akhirnya Mr.Crab dan Spongebob mutusin buat temenan ajahh. Belom sehari, gw yakin sama hitungan gw…

Kami yakin ini keputusan terbaik… Hmm, dengan mudahnya semua berakhir gitu ajahh. Yupz, setidaknya gw udah menyetujui hal itu. May be, awalnya…

*** semangat Mr.Crab… You can do it… Maaf, gk bisa selalu disampingmu…Bahkan untuk sekedar menyemangatimu.. Semoga akan ada wanita sebaik your Nyonyo kelak ***





gue benci cinta

Gue Benci Cinta ! ! !

Pernahkah lw nyesel karena udah ngungkapin perasaan terdalam lw sama seseorang???
Pernahkah lw nyesel dengan adanya perasaan lw yang sekarang???
Pernahkah hati lw ngerasa sakit tanpa perlu disentuh oleh siapapun???
Sekarang, bahkan menjadi sekedar temanpun adalah hal yang mustahil. Bukan ini akhir yang gue harapkan, pastinya…
Bagaimana bisa ini dibilang melepas kalo lw bahkan nggak pernah berusaha buat menangkap??
Tentu ini bukan melepas, tapi lw mendorongnya… mendorong pergi jauh dan makin jauh dari jangkauan lw. Agar guepun nggak bisa menjangkau lw…
Benteng tinggi yang menahan udara masuk ke hati lw…
Setau gue cinta yang gue punya itu egois, tapi Cuma di depan lw gue bisa nggak egois.
Ada banyak hal didunia ini yang nggak gue ngerti, tapi demi lw gue berusaha buat ngerti. Selalu….. 
Apa yang salah kalo gue Cuma ingin yang terbaik buat lw?? Gue bisa egois sama semua orang, tapi selalu ngalah buat lw..
Buta… Gue tau cinta ini buta… Gila… Emang gue udah gila karena lw..
Apa yang salah sama gue?? Kenapa nggak satupun permintaan gue yang lw turutin?? Kemana lw yang dulu bikin dunia gue indah?? Yang bikin bumi berhenti berputar… 
Bullshit kan?
Gue nggak percaya lagi sama yang namanya, apalah itu… 
Cinta… Nol besar… 
Sumpah, hal ternonsense yang pernah gue kenal…


Saat nggak pernah ada cinta untuk dunia, maka gue pun nggak akan mencintai apapun yang ada didunia….
Gue benci cinta ini, sebenci lw sama gue… Kalo bisa, gue juga pingin boikot cinta ini, sama persis kayak lw yang pingin boikot lagu cinta… 
Bukankah hidup gue akan lebih indah (se nggaknya lebih normal) tanpa gue mesti kenal sama hal ternonsense ini… 
Dan tentunya, tanpa harus kenal lw..
Kenapa lw timbulkan luka tanpa rasa ? ?
Dan lagi–lagi biarkannya tanpa kata....
Trauma jatuh cinta??
Takut patah hati?
Menyedihkan… Cuma karena 1 makhluk jahat sepertinya…


NB : untuk yang tercinta, dengan sejuta kebisuannya yang terasa begitu nyata. Dan apapun itu, aku yakin kamu nyata…. Senyata rasa ini untukmu….

Timeline

follow!!!