Tampilkan postingan dengan label Melangkah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Melangkah. Tampilkan semua postingan

Ibu belum datang menjemputku

Aku menangisi ini seumur hidupku.
Rasanya seperti punya segalanya saat Ibu ada. Kemudian Ibu pergi, dan aku kehilangan semua yang tadinya terasa mudah untuk digapai.
Pada akhirnya aku menyadari bahwa Ibu adalah seseorang yang bisa menerima, baik dan buruknya kita. Rasanya aku bukan lagi siapa-siapa setelah Ibu pergi.

Pernah suatu hari aku merasakan sakit yang teramat sangat, karena dianggap dan disebut sebagai 'orang lain' oleh kakak kandungku sendiri. Mungkin menurutnya kalimat itu gak akan nyakitin. Tapi karena saat itu aku merasa 'sendiri' dan kehilangan segalanya, kalimat itu membuat dunia seakan runtuh. Bahwa benar adanya sekarang aku bukan siapa-siapa untuk siapapun. Karena Ibu—yang menganggapku segalanya telah pergi, i have nothing in the world! Aku kehilangan Ibu, dan sekarang gak punya siapa-siapa lagi. Sama sekali gak ada sesuatu hal yang aku miliki.
Aku tak lagi punya tempat untuk berbalik dan mengadu.
Malam itu aku menangis sendirian, bertanya lagi kenapa Ibu membiarkanku sendirian di dunia ini. Kenapa Ibu pergi sangat jauh dan terlalu lama? Sejujurnya aku selalu yakin saat sudah tiba waktunya, Ibu yang akan datang menjemput dengan senyum di wajahnya. 

Lalu aku tersadar, tentang kemungkinan alasan kenapa aku sering merasa seperti menunggu—entah apa itu—ketika berada di luar rumah. Aku enggan untuk langsung pulang, dan terus berlama-lama di halte atau di pinggir jalan, menunggu tanpa hasil. Ternyata, selama ini aku menunggu untuk seseorang menjemputku. Dan aku sungguh  berharap itu Ibu.
"Ah mungkin Ibu akan menjemputku hari ini." Lalu hari berlalu begitu saja.
"Oke pasti hari ini dijemputnya."
"Sebentar lagi, gak akan lama."

Terus kayak gitu sampai dengan hari ini.
Aku menunggu tanpa ada seseorang yang datang. Ibu tak juga datang menjemputku.

Malam saat aku menangis sendirian, tak hentinya aku bertanya, "mengapa hanya aku yang sendirian?"
Surprisingly, tiba-tiba keponakanku muncul di sampingku. Tanpa berkata apa-apa, hanya duduk menemani dan sesekali melihat ke arahku.
Tentu aku berusaha menahan tangis, meski nyatanya hati makin teriris perih.
Saat itu keponakanku baru berumur 5 tahun. Mungkin ia bertanya-tanya kenapa orang dewasa menangis dan tak bisa berhenti. Ia menemaniku menangis dalam diamnya. Rasanya seperti Ibu menemaniku.
Keesokan harinya dia bahkan gak bertanya tentang kenapa aku menangis, atau kenapa orang dewasa juga bisa menangis. Mungkin itu jawaban dari Tuhan, bahwa aku gak benar-benar sendirian.



Hey Bu, i miss you. Jangan lama-lama ya jemputnya. Karena rasanya aku semakin melemah. 
Aku janji masih akan terus menunggu lagi kali ini, janji!

Introvert Bukan Antisosial

Beberapa waktu belakangan ini gue lebih senang di rumah, jarang ke mana-mana, juga lebih nyaman ngapain aja sendiri. Rasanya sangat tenang dan damai karena gak harus menjawab pertanyaan gak penting, gak perlu buang-buang tenaga mengobrol sama orang,  gak mesti capek mengikuti langkah kaki orang, gak perlu memikirkan masalah orang. Semuanya cukup tentang diri gue sendiri. Dan rasanya sangat melegakan karena gue bisa berjalan cepat, lambat atau bahkan berlari tanpa memedulikan orang lain.

Tadinya gue berpikir bahwa ini hanya perasaan sementara dari siklus hidup manusia. Bahwa ada masa dimana dia merasa  lebih nyaman sendiri daripada bersama orang lain, semuanya lebih terkendali saat sendiri.
Lalu gue mulai takut kalau nantinya gue menjadi terbiasa dengan kesendirian, keterusan. Karena sebenarnya dari dulu gue menyadari bahwa gue punya kecenderungan seorang introvert. Gue tahu bahwa kebiasaan gak nyamannya gue berada di tengah-tengah banyak orang itu sebenarnya bukan sekadar demam panggung. Gue bukan orang yang nyaman curhat kepada orang lain, entah itu teman atau keluarga. Gue gak bisa menceritakan permasalahan gue sama orang lain, karena gue gak mau mendengar pendapat yang gak sesuai dengan apa yang gue mau. Gue takut bahwa mungkin pendapat orang lain ternyata membuat gue merasa minder. Gue gak bisa mempermalukan diri gue sendiri di depan orang lain.
And then gue mulai mencari tahu tentang permasalahan gue ini. Apakah ini tentang fase atau siklus hidup manusia yang mungkin memang ada masanya (malas bersosialisasi) kayak gini atau apa ini indikasi dari suatu penyimpangan/kelainan/gangguan kepribadian. Gue menemukan satu artikel yang isinya 100% tentang apa yang gue alami saat ini. Yang tak lain dan tak bukan adalah perihal seorang introvert. Ya, pada akhirnya gue harus mengakui bahwa gue seorang introvert. Dulu saat awal-awal tahu, gue berusaha keluar dari lingkungan introvert itu. Gue gak mau menjadi orang yang introvert. Gue gak mau sendirian, kesepian, gak punya teman, aneh, kaku, canggung saat mengobrol dengan orang lain, dll. Dan ya, itu dulu! Saat gue masih muda, sewaktu masih bersemangat dan punya banyak tenaga. 

Gue mengingat-ingat kapan tepatnya meyakinkan diri bahwa gue seorang introvert. Dan ternyata itu adalah tahun lalu, saat gue ikut kelas menulis. Sejujurnya melalui kelas ini gue berniat ingin menambah teman dan kenalan yang punya kesamaan minat di bidang menulis. Sekali dua kali kelas gue berusaha ramah dengan beberapa orang, tersenyum dan bahkan menyapa—orang yang gue tahu namanya. Sampai suatu ketika gue sudah cukup tahu nama-nama seisi kelas, gue tiba-tiba berubah pikiran. Gue merasa gak perlu kenal mereka lebih jauh, gak harus basa-basi menyapa meski gue tahu namanya. Ya kalau pun gak sengaja bertukar pandang dengan mereka, rasanya gue cukup tersenyum sopan. Atau malah mengabaikan saja beberapa di antaranya—yang menurut gue terlihat menyebalkan. 

Pada akhirnya gue menyadari bahwa terlalu banyak bersosialisasi dengan banyak orang itu gak prioritas di hidup gue. Bukan antisosial sih menurut gue, tapi lebih ke malas bersosialisasi yang berujung pada kemandirian. Karena sebisa mungkin gue melakukan semuanya sendiri,  tanpa perlu dibantu oleh orang lain.
Jelas ini bukan antisosial. Gue tetap menyapa orang yang gue kenal, tetap tersenyum. Gue tetap rileks di depan banyak orang, se-santai mungkin dan gak canggung berbaur dengan orang lain. Dan gue menikmatinya, meski itu melelahkan. Melelahkan dan gak se-menyenangkan sendirian, pastinya. 

Jadi menurut gue introvert itu gak selalu aneh, nerd dan antisosial. Sejujurnya itu hanya karena mereka merasa jauh lebih bebas dan lega saat sendiri. Kebebasan menjadi dirinya sendiri, mengobrol dalam hati dengan dirinya sendiri. Mempergunakan waktunya dengan suka-suka tanpa takut mengganggu waktu orang lain.

Hidup tanpa terbebani dan membebani orang lain.

A Tribute to Kim Jung Hwan, Selamat Tinggal Cinta Pertama (Reply 1988)

Gue memikirkan ini dari dulu.
Kenapa mengingat cinta pertama di masa lalu itu nyesek banget?
Kenapa rasanya kayak ada yang salah dan gak pada tempatnya?
Bahkan ketika di masa sekarang kita melihat lagi si cinta pertama ini, kemudian menyesali perasaan yg dulu-dulu. Merasa konyol, dan udah gak memandang penuh cinta lagi pada orang tersebut. Tapi tetap ada perasaan aneh ini. Yang seringkali tanpa sengaja membuat menangis-gak jelas.
Ah sumpah ini perasaan yang ambigu.

Lalu gue menyadari suatu hal saat nonton Jung Hwan-ke sekian kalinya-di drama korea Reply 1988.
Ternyata yang membuat gue gak rela dan nyesek not Him, bukan si cinta pertama.
Tapi karena gue terlalu sayang dengan semua kenangan itu, perasaan suka yang kayak roket meluncur di udara di masa itu.
Gue berharap ini kenangan yang bukan gue sendiri yang merasakannya. That's why rasanya hancur dan gak ada obatnya selain menangis.

Gue bahagia setelah akhirnya menemukan jawaban dari semua kegalauan sepanjang sepuluh tahun belakangan ini.
Gue lega bahwa ternyata gue gak menangisi orang itu lagi.
Gue bersyukur telah belajar menjadi kuat dan berani bangkit, dan gak terpuruk lagi.

Ketahuilah, cinta pertama gak selalu happy ending. Gak semua orang berhasil mendapatkan cinta pertamanya. Tapi dari cinta pertama inilah kita belajar untuk lebih kuat, semakin kuat.
Dan untuk orang yang berhasil happy ending dengan cinta pertamanya, mereka belajar bertahan dengan orang yang sama setiap harinya. Belajar menerima semua hal dari cinta pertamanya, ikhlas memberi semuanya untuk cinta pertamanya.
So, cinta pertama seperti apa yang kalian miliki?

*Terima kasih kepada Kim Jung Hwan (REPLY 1988) yang telah membuat gue menulis ini.





Keresahan Menjelang 30

Sebenarnya masih dua tahun lagi. Tapi gue yakin dua tahun sangat singkat sampai kalian bahkan gak sadar bahwa tulisan ini sangat PAS untuk kalian.
Gue pernah bercerita tentang kegelisahan gue setiap menjelang ulang tahun-di bulan April.
Ini mulai terjadi kira-kira di usia yang ke-26 tahun.
So di usia 24 atau 25 tahun, kalian sebaiknya menikmati ulang tahun dengan sebaik-baiknya. 😅

Anyway apa saja sih yang berkecamuk di benak kalian saat menginjak tahun di mana usia kalian nanti 26 tahun?
Saat itu kalian akan mulai melihat sekeliling kalian, dan membandingkannnya dengan diri sendiri. Apa yang gak kalian miliki, apa yang gak ada di genggaman kalian.
Lalu kalian akan menyingkirkan segala hal negatif dan berpikir, "ahh gue masih 26 tahun. Masih banyak waktu."

Waktu berlalu, kalian mulai di usia rawan dan sensitif. 27-28 tahun adalah masa tersulit jika kenyataan gak sejalan dengan apa yang kalian impikan.
Kalian menengok ke kanan dan melihat apa saja yang kalian dapatkan, kemudian menoleh ke kiri dan menyadari betapa lebih banyak kehilangan sejauh ini.
Melepaskan, merelakan, mengikhlaskan, menjauhkan. Dan ini tentang banyak hal. Cita-cita, cinta, keluarga, harapan.
Segala yang hilang membuat kalian melihat ke belakang dan ingin mengulang masa lalu.
Kalian akan banyak merenung, menghabiskan banyak waktu untuk berandai-andai. Kemudian saat tersadar, kalian bersusah payah mencoba merancang masa depan baru. Demi mengurangi rasa bersalah di masa lalu.  Mulai susah percaya dengan yang namanya ketulusan, lebih senang bergaul dan berbincang dengan diri sendiri.

Bagi yang telah menikah, sebagian akan mulai flashback ke masa singlenya. Berandai-andai bagaimana hidupnya bila ia gak memutuskan menikah di usia muda. Sedikit terlintas di benaknya apakah mungkin ia akan lebih bahagia daripada sekarang. Melihat cincin di jarinya dan dilema apakah ia dan pasangannya akan selamanya seperti sekarang. Apakah ia terlalu cepat menjadi dewasa?

Mungkin seharusnya kita lebih lama bermanja-manja dengan orangtua kita? Menghabiskan lebih banyak waktu di rumah masa kecil. Menikmati ocehan ibu yang sekarang tak lagi kita dengar.
Masa lalu memang hal yang paling enggan ditinggalkan dan dilupakan. Dan masa depan menjadi sedikit menakutkan untuk sekadar dibayangkan. Yang kalian bisa lakukan adalah menikmati apa yang ada sekarang, apa yang kalian miliki. Jika yang ada di genggaman kalian terasa menyakitkan, ya lepaskan!
Jika yang lain terlihat lebih menyilaukan, coba amati baik-baik. Siapa tahu ternyata itu hanya pantulan dari tempat lain, bukan sinarnya sendiri.

Mari lebih banyak bersyukur atas hikmah dari kehilangan di masa lalu. Berusaha lah untuk lebih banyak menerima kebahagiaan dengan hati dan tangan terbuka. Ayo memberikan yang terbaik untuk sekitar kita dan berharap memperoleh yang terbaik juga dari Tuhan.
Tuhan mempersiapkan suka dan duka yang seimbang untuk kita, karena Ia Sang Pencipta yang Maha Adil dan Bijaksana.

Sedihku sama sekali bukan urusanmu! You are NOTHING!

Apa ya?
Beberapa waktu belakangan ini gue menyibukkan diri dengan hal lain. Yang biasanya menjadi prioritas ke sekian, yang biasanya hampir terabaikan.
Pekerjaan, kesehatan..
Sebenarnya gue sedang berusaha melupakan kegalauan-kegalauan dan keresahan yang sering muncul.
Dia muncul saat gue menunggu masakan matang di dapur, saat gue minum minuman favorit gue, saat mendengarkan lagu di kamar, saat berjalan menuju rumah, saat melihat orang-orang lalu lalang.
Perasaan itu muncul, dan gue segera mengusirnya.
Karena menurut gue agak gak cocok bagi orang dewasa memikirkan masalah-masalah itu.
Masalah remeh-temeh!
Galau-galauan masalah cinta-cintaan dan sejenisnya.
"Berusaha menjadi orang dewasa sepenuhnya", gue menyebutnya.
Bukan karena pandangan orang lain.
Tapi lebih karena gue sudah terlalu lelah menghabiskan waktu untuk hal semacam itu.
Karena hanya dengan memikirkan hal itu akan menyakiti gue terlalu dalam.
Atau membuat gue berakhir dengan mengasihani diri sendiri.
Gue baik-baik saja.
Hal itu gak akan merusak hidup gue.
Dunia gue gak hancur, gak ada yang bisa menghancurkan hidup gue kecuali diri gue sendiri.
Dia gak layak, siapa pun gak layak!
Orang lain yang hidupnya baik-baik saja gak boleh membuat gue terpuruk.
Gue terus meyakinkan diri gue sendiri tentang itu.
Gue gak butuh dibantu, gue mau berusaha menjadi kuat dengan usaha gue sendiri.
Gue hanya butuh lebih yakin bahwa gue memang bisa melalui tahap ini dengan baik.

Percayalah, kamu sudah melakukan yang terbaik.

Kadang kita berusaha terlalu keras untuk terlihat baik (atau bahkan terbaik) di mata orang lain.
Kita lupa bahwa sebenarnya kita hanya perlu menjadi yg terbaik untuk diri kita sendiri.
Sehingga bukan suatu yg mustahil orang akan melihat hal baik itu.
Amazing you, just do it!  And trust yourself, dear!
#WhisperOfTheHeart

Menjadikanmu lengkap

Mungkin matahari pernah menjelma menjadi peri
Dan dengan sengaja menjadikan sekitarnya romantis
Peri romantis
Andai ada itu pun!
Mungkin sinarnya pernah menyilaukan
Lalu harapan melambung tinggi
Aku rasa senyum bukan akhir dari pencapaian
Menggenggam dan tiap kata yg tak terucap
Menjadikanmu lengkap
Tepat.

Jendela?

Hei jendela yg terkunci
Bagaimana caranya seseorang menggapaimu?
Aku menyebutnya sulit
Sangat susah juga melihatmu
Kemarin hujan lewat
Sengaja tak menepi, karena dilihatnya kau ingin sendiri
Tak ingin diganggu
Apalah maksudnya dengan diam tak bertatap
Bahkan siapapun tak pernah menyadarimu
Mari tinggalkan tanah dingin kosong itu
Pilu bila kau terus menjadi pemikir
Atau pemimpi?
Ahh sudahlah....
Ini sungguh terasa sulit
Untukmu dan untukku.

Jangan Menatap Langit

Sungguh ini bukan waktunya merapikan rambut yang tersibak oleh angin.
Sedikit berlari, ia memasuki tempat tujuannya.
Antrian panjang di samping kirinya seolah tak dilihatnya.
Ia terus berjalan sambil sesekali menahan nafas, gugup.
Ia teringat betapa ia berpikir keras 3 jam yang lalu. Berpikir dan mempertimbangkan untuk berangkat atau tidak.
Tepat 2 jam sebelumnya, akhirnya ia putuskan untuk pergi.
Ke tempat yg tak disukainya ini. Tempat perpisahan dan pertemuan.
Tempat di mana ia selalu menahan tangisnya saat akan meninggalkan atau ditingalkan orang-orang yang disayanginya.
Ia kemudian menyimpulkan, mengapa ibunya tak pernah mengantarnya ke stasiun.
Sama sepertinya, ternyata ibunya pun takut akan perpisahan.

Kita tak bertatap

Kadang yg memisahkan bukan jarak
Tapi pandang
Kadang yg memisahkan bukan tempat
Tapi arah
Kadang yang memisahkan bukan orang lain
Hanya kita yang masih enggan
Kadang aku menepi
Mungkin saat itu kamu berlalu
Kadang aku kacau
Dan kamu sedang ingin senyap
Lalu,
Kita lelah!

GOOD bye (bukan BAD bye)

Kamu boleh berjalan mundur, berlari jauh
Silahkan!
Aku menari bersama ilalang
Tarian kebebasan
Kamu boleh tersenyum senang, tertawa bahagia
Terserah!
Aku menangis bersama tetes hujan
Tangisan kemerdekaan

Angin telah menemukanmu

Percaya atau tidak, kamu hanya punya 1 orang yg selalu menginspirasi bait-bait sajak dan puisi mengalir lancar di ujung jemarimu.

Angin mengoyak waktu
Usah lagi menunggunya
Tak ada lagi kesempatan mencarinya
Angin lewat sepintas lalu
Begitu pikirku
Tapi kamu menyapanya, meraihnya.
Kamu melihat, memperhatikan
Membuatnya terhenti dan menunggu
Sepertiku.
Tapi kamu menjemputnya
Angin sepoi sore itu,
Dan kalian berlalu.

Bukan Salah Jodoh

I have nothing idea about 'jodoh'. Terkadang itu terasa sangat menyebalkan. Kita bahkan gak harus terlalu memikirkannya meski orang di sekitar kita sering mempertanyakannya. Beberapa waktu belakangan ini rasanya seperti saat bulan-bulan pertama ditinggal Ibu.
Gak ada ide untuk mencari ibu lain. Persis seperti itu situasinya.
Mana mungkin ide mencari Ibu baru adalah solusinya.
Yes, solusi 'kehilangan arah' aku menyebutnya.
Untuk beberapa saat, hidup benar-benar tak tentu arah. Semacam gak ada 'misi' lagi.
M*g* seperti Ibu untukku. Pusat dunia setelah Ibu pergi. Tempat di mana aku ingin berbagi seluruh hidup. Tempat yang selalu membuatku ingat pulang. Tempat dimana aku ingin berkeluh-kesah. Tempat menenangkan dan membuatku nyaman.
Begitu pikirku.
Kemudian saat dia menemukan 'tempat nyaman' untuknya, dan itu bukan aku. Aku berhenti, terpaksa berhenti, harus berhenti! Karena ini batasnya.
Ini bukan sekadar 'patah hati'. Aku kehilangan 'lentera'. Lentera yang memberikanku cahaya. Padahal aku selalu mengikutinya bertahun-tahun. Ternyata itu adalah lentera untuk orang lain. Aku yang salah arah.
Ya, aku yang salah.
Lalu aku bingung karena sudah terlalu jauh dari mana-mana. Terlalu gelap dan sunyi bila aku menuju ke arah sebaliknya. Aku memutuskan berhenti di tempatku berdiri, sambil tetap mencoba mencari 'lentera' lain.
Berharap dan terus berharap.
Aku berharap 'lentera' itu akan mengenaliku, mencariku, dan tak berhenti di tempat sepertiku.
Untuk para sahabat yang telah menemukan lenteranya, congratulations 'gaeeeeeess'. Kalian layak mendapatkannya.
Aku yang belum layak...
Semoga lentera kalian selalu menyala dan menyilaukanku. Sehingga aku tidak merasa terlalu dingin di sini, di  tempatku berdiri.
Ah kalian membuatku tersenyum iri.

1 year later

Tahun ini rasa kesepian itu hilang entah kemana.
Bukan berarti gue sudah gak lagi kesepian.
Hanya saja gue mulai terbiasa dengan rasa sepi.
Berdamai dengan sunyi.

Mungkin karena perlahan rasa itu terganti dengan perasaan kehilangan.
Iya!
Sejujurnya seiring dengan pertambahan usia, semakin banyak & sering kita kehilangan hal-hal di sekitar kita.
Kehilangan jatah hidup, kehilangan anggota keluarga, kehilangan teman, kehilangan waktu, kehilangan kesempatan, kehilangan seseorang yg tahun lalu masih kita harapkan, dan lain-lain.

Beberapa tahun yang lalu ibu pergi, gue kehilangan belahan jiwa gue (hingga sekarang).
Di tahun yang sama gue kehilangan teman (sahabat?) gue.
Tahun berikutnya seseorang yg (pernah) gue sayang menikah, gue kehilangan orang & harapan dalam 1 waktu.
Tahun ini hal itu terulang. Sayangnya dia bukan hanya sebatas seseorang yang gue sayang, lebih dari itu.
Dia adalah satu-satunya yang membuat gue berpikir bahwa harapan masih (dan selalu) ada.

Pada akhirnya gue harus menerima semua proses kehilangan itu.
Menerima dan berdamai dengan segala hal yang pergi ataupun hilang dari hidup kita.
Sampai saat ini mungkin kita kehilangan berkali-kali, sedih & terpuruk ratusan kali.
Tapi dengan begitu kita telah mengurangi banyak jatah kehilangan dan kesedihan.
Sehingga kelak di kemudian hari, (semoga) kita akan menerima banyaaaaakk kebahagiaan.

AMIIIIN!

PERNIKAHAN (lagi?)

Pernikahan....

Yes, entah kenapa tahun 2016 ini bahasannya seputaran wedding.

Pernikahan yang ditunggu-tunggu.
Pernikahan yang udah terbayang sebelumnya.
Pernikahan yang bikin deg-degan.
Pernikahan yang ngagetin.
Pernikahan yang mengagumkan.

Sejujurnya ini bulan yang entahlah banget buat gue.
Sedih tapi gak mau sedih, senang tapi berasa sedih (kok gue semacam alay deh, plin-plan).

Sebuah pernikahan...
Pertama kali gue mikir tentang pernikahan adalah (emm....) sekitar 3-4 tahun yang lalu.
"Mungkin gue akan menikah tahun 2015".
"Ohh oke, mungkin 2016".
"Ya 2017 pun bolehlaaaahh".

Terakhir beberapa bulan yang lalu gue coba iseng ngecheck di aplikasi Facebook, hasilnya gue (mungkin) menikah di usia 29 tahun.
"Not bad lah, belum kepala 3".

Kemudian gue mulai berpikir serius.
Apa sih yang membuat seseorang yakin untuk menikah, kapan tepatnya seseorang yakin untuk menikah?
* Umur yang udah pas, atau maybe kelewat pas.
* Calon yang klik banget, saling melengkapi istilahnya.
* Desakan keluarga , mama minta cucu.
* Sindiran teman, kapan nyusul?
* Pasangan yang udah siap, sekalipun kitanya belum cukup siap.
* Tabungan udah cukup, dan kebetulan calon udah ada.
* Udah pacaran lama, nunggu apalagi?
Dan lain-lain

Ada yg udah pacaran lama, udah tunangan, akhirnya malah putus (gak jadi nikah).
Ada yang udah sangat yakin bahwa he/she is the one, tapi malah si target merasa "you're not the one for me".

Cinta bukan selalu tentang perjuangan atau saling menerima, tapi juga tentang bertahan dan tulus memberi.
Berjuang tanpa bertahan, akan jadi sia-sia dan percuma.
Selalu hanya menerima tanpa mau memberi, akan berakhir dengan hubungan yang egois dan berat untuk dijalani.

Percayalah jodoh itu bukan tentang siapa cepat dia dapat, tapi lebih kepada siapa yang tepat dia yang dapat.
Bukan juga tentang siapa yang lebih lama berada di samping kita, tapi siapa yg rela selamanya berada di samping kita.

Jodoh bukan sekedar keberuntungan, tapi itu adalah sesuatu yang sesuai dengan yang Tuhan sudah rencanakan.
Gak akan keliru, tertukar, terpaksa, salah tempat, dan salah waktu.
Pernikahan akan terjadi di saat yang tepat sesuai dengan apa yang telah Tuhan tuliskan untukmu, jalan takdirmu.
Dan bukankah seharusnya Tuhan adalah satu-satunya penunjuk jalanmu, di hidupmu?

Anyway.....
Happy wedding RAKHMADHONA & IBNUL!
Hanya takdir yang bisa menyatukan dan memisahkan kalian.
Everlasting yaa!

AMIIIIN!

A Negative Mind will Never Give You a Positive Life

Setiap masalah, kejadian buruk (apapun itu),
pasti akan berlalu.
Bukan berarti 'hilang tak berbekas'.
Tapi, pasti akan terlewati.

Mungkin suatu hari kita akan teringat lagi, that's normal!
Sedih atau galau lagipun boleh,
tapi pasti itu hanya sekejap.
Karena kita akan banyak mengalami hal2 menyenangkan, kenangan-kenangan baru, pemikiran-pemikiran yg membuat kita lebih kuat & dewasa.

Dan di hari itu kita akan tahu bahwa masalah & hal buruk di masa lalu hanya 'kerikil kecil' yg tak perlu terlalu ditakuti atau diratapi.

Bersyukur, karena gak semua orang mendapat 'ilmu bertahan' yg sama dari Tuhan.

*Menerima & menghadapi hal-hal negatif di hidup kita adalah cara terbaik membiarkannya berlalu.

Iya, gue sedih.

Terkadang susah banget mengakui bahwa kita sedang 'galau' atau sedih.
Gengsi banget kalau ketahuan oleh orang lain.
Karena seringkali pemahaman & pemikiran orang lain tentang kita semacam ini :
"Diiiiihh alay, dikira masih ABG kali."
"C A P E R!"
"Kurang piknik nih orang."
"Yaelaaaaaaahh masih aja."

Guepun dalam beberapa kasus sering lebih milih diam daripada cerita kemana-mana, bahkan ke teman sekalipun.
Gue takut dengan pemikiran orang (meskipun itu teman) tentang gue.
Padahal seringkali rasanya gak 'plong' kalau gak diceritain.

Terkadang gue juga takut menangis, bahkan saat sendirianpun.
Iya, gue bahkan gengsi dengan diri sendiri.
Berusaha kuat, bertahan & gak galau dengan keadaan gue.

Tapi gue lupa bahwa semakin kita menahan kesedihan, maka rasa sakitnya juga ikut tertahan.

Cobalah hadapi kesedihanmu, kehilanganmu. Jika memang ingin menangis, menangislah sepuasmu.
Jangan menyangkal sedihmu dan seolah itu tak berpengaruh bagi hidupmu.
Dan finally saat kamu sudah siap nanti, mulailah melepaskan kesedihanmu.
Mengikhlaskan kehilanganmu....

Mungkin suatu hari nanti gue akan lupa tentang perasaan (kehilangan) hari ini, gue akan merasa konyol karena pernah sesedih ini, mencemooh betapa lemahnya gue.
Lalu tersadar bahwa ada semacam kekuatan yg berhasil dibentuk, ditempa oleh rasa kehilangan & kesedihan gue di masa lalu.

Sometimes you will never know the value of a moment until it becomes a memory.

Somebody getting married today

Woooohh finally!
Gue melewati moment ini juga.
NO, I'M NOT GETTING MARRIED.
Not me.
Yes, he is.

Semacam berkali-kali gue bayangin hari ini.
Terkaget-kaget karena 'pernikahan'.
But, akhirnya HARI INI!
Dari sekian banyak tanggal, hari, tahun.
Dan gue tahu dari social medianya.
HE IS GETTING MARRIED!
Hary Mega getting married!
Gak seperti bayangan gue.
Semuanya berlalu gitu aja, tanpa air mata, tanpa drama,  t̶a̶n̶p̶a̶ ̶n̶a̶n̶g̶i̶s̶ ̶d̶i̶ ̶p̶e̶l̶u̶k̶a̶n̶ ̶m̶e̶m̶p̶e̶l̶a̶i̶ ̶p̶r̶i̶a̶ (kayak Risna).
Entah lah apa ini dinamakan ikhlas atau karena gue udah cukup mempersiapkan diri untuk hari ini.
Gue gak tahu siapa wanita pilihannya itu.
Bukan karena gue gak peduli. Beberapa menit yg lalu gue mencoba nyari tahu tentang Who is she.
Gak ada hasilnya. Dan setelah gue pikir-pikir ini semacam sia-sia. Gak ada gunanya juga tahu lebih jauh kan?
Gak seperti pemikiran gue sebelumnya, gue pikir gue akan doain dia & ikut bahagia dengan pernikahannya.
Gue gak bahagia, tapi juga gak sedih.
Mungkin karena dia bukan lagi seseorang yg penting di hidup gue, he is nothing.
Beberapa waktu yg lalu gue memang kaget, bahkan merinding sekujur badan, tangan dingin.
Tapi itu reaksi wajar untuk kondisi tersebut gue rasa.
Sooooo.......
Yes, life must go on.
*no, I can't smile.
Bye.

Yang Bikin s̶i̶n̶g̶l̶e Malas Pergi Ke Kondangan

Sebagai single sejati  k̶u̶r̶a̶n̶g̶ bahagia, sejujurnya hal paling malesin pergi ke kondangan adalah...........
Bukan karena gak ada temen, juga bukan karena gengsi dateng tanpa pasangan.
Tapi karena pernikahan sering bikin dia waswas.
"Duuuhh gue kapan ya? Calon suami mana nih calon suami? Tanggal berapa sekarang, tahun berapa, beras sekilo harganya berapa?
Umur gue berapa, siapa aja di sini yg belum nikah selain gue? Ehh busyeeeet kaki gue gak napak! OMAIGAAAATT!! "
*Ternyata gue udah jadi hantu. Bunuh diri barusan pas ngisi buku tamu di depan.
Oke fine, itu imajinasi tingkat k̶u̶r̶a̶n̶g̶ tinggi.
Finally gue sadar ada di tengah2 orang yg udah nikah, akan menikah, udah nikah 2x, udah punya anak 3, udah punya anak tapi belum nikah, nikah belakangan yg penting 'nabung' duluan, dan lain-lain dan sebagainya.
GUE   MAKIN    PANIK   d̶a̶n̶ ̶n̶g̶e̶n̶e̶s̶!
Yes, itu yg paling bikin suasana pernikahan terasa gak nyaman dan mencekam!
Pulangnya gue sendirian, mikir!
"Di sepanjang jalan ini, yg senasib & sepikiran sama gue ada berapa orang?
Jodoh gue dimana ya? Kondangan sama siapa ya?
Ketemu sama guenya kapan?
Boleh minta ketemu sekarang aja gak? Plis pliss pliiiiiiss!!"
*Maaf kebawa perasaan.
Dan gak sampai di situ. Gue masih akan berasa 'diteror' hingga beberapa hari ke depan.
Mellow, galau, ngelamun, males ngapa-ngapain, males mandi, denger lagunya wali yg 'cari jodoh'.
Oke fine, yg terakhir gak mungkin! Gue gak suka lagu itu.
Dan jangan coba-coba nyanyiin lagu itu di depan gue!
*Lagunya suka nempel di otak & gak ilang-ilang.
So, buat yg belum nikah & belum ada rencana mau nikah dalam waktu deket.
S E T U J U      gak sama gue??
Kalau setuju, mungkin kita jodoh! 😀 #KHUSUSCOWOK!!!

T A K U T

Gue 26, tahun ini 27.

Pas kecil gue pikir cuma anak-anak yg terlalu banyak punya ketakutan.
Takut guru matematika, takut jatuh, takut gak naik kelas, dan lain-lain.
Gue pikir semakin dewasa & bertambah umur, seseorang akan semakin berani.
Berani mengambil keputusan, berani menghadapi masalah, berani bangkit saat jatuh.

De-wa-sa! Menua!

Rasa takut bukan makin hilang, tapi malah muncul ketakutan2 konyol yang gak masuk akal.
Takut jatuh (cinta sama orang yg salah), takut gak akan pernah ada orang di samping (yg nemenin sembari saling menggenggam tangan), takut goyah (dan gak ada yg menguatkan), takut gak beranjak dari tempat yg sekarang, takut menjadi orang yg gak berguna (bahkan untuk dirinya sendiri), takut menjadi tua (dan masih sambil mikirin banyak ketakutan lainnya).

Sebenarnya kapan tepatnya rasa takut tersamarkan atau bahkan sama sekali hilang?
Apa memang rasa takut gak bisa dilawan sendirian?
Apa harus selalu oleh DUA ORANG, hanya untuk menghadapi ketakutan & memunculkan keberanian?

Timeline

follow!!!