Rasanya seperti punya segalanya saat Ibu ada. Kemudian Ibu pergi, dan aku kehilangan semua yang tadinya terasa mudah untuk digapai.
Aku tak lagi punya tempat untuk berbalik dan mengadu.
Malam itu aku menangis sendirian, bertanya lagi kenapa Ibu membiarkanku sendirian di dunia ini. Kenapa Ibu pergi sangat jauh dan terlalu lama? Sejujurnya aku selalu yakin saat sudah tiba waktunya, Ibu yang akan datang menjemput dengan senyum di wajahnya.
"Ah mungkin Ibu akan menjemputku hari ini." Lalu hari berlalu begitu saja.
"Oke pasti hari ini dijemputnya."
"Sebentar lagi, gak akan lama."
Terus kayak gitu sampai dengan hari ini.
Aku menunggu tanpa ada seseorang yang datang. Ibu tak juga datang menjemputku.
Surprisingly, tiba-tiba keponakanku muncul di sampingku. Tanpa berkata apa-apa, hanya duduk menemani dan sesekali melihat ke arahku.
Tentu aku berusaha menahan tangis, meski nyatanya hati makin teriris perih.
Saat itu keponakanku baru berumur 5 tahun. Mungkin ia bertanya-tanya kenapa orang dewasa menangis dan tak bisa berhenti. Ia menemaniku menangis dalam diamnya. Rasanya seperti Ibu menemaniku.
Keesokan harinya dia bahkan gak bertanya tentang kenapa aku menangis, atau kenapa orang dewasa juga bisa menangis. Mungkin itu jawaban dari Tuhan, bahwa aku gak benar-benar sendirian.
Aku janji masih akan terus menunggu lagi kali ini, janji!











