Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan

Bintang Tak Bernama

Seperti malam-malam di benakmu
Seperti sudut-sudut di rumah tak berpenghuni
Biarkan saja lampunya padam
Relakan cahaya bulan yang hanya sekelebat
Ini waktunya
Menyimpan semua pendar di dadamu
Mendesak masuk
Menyingkirkan bintang tak bernama
Mengabaikan yang hanya sepintas lalu

Kosong, senyap, kamu!

Kamu lelah, menepi.
Pergi saja, aku juga tak menunggu!
Begitu katamu.
Aku masih berbelok di pertigaan
Debu menghalangi
Daun-daun berserakan tak tersentuh
Sungguh tak pernah ada yang menyentuh
Tapi entah mengapa
Kamu yg duduk di persimpangan tak menoleh
Dingin, senyap!
Membisu.

Menjadikanmu lengkap

Mungkin matahari pernah menjelma menjadi peri
Dan dengan sengaja menjadikan sekitarnya romantis
Peri romantis
Andai ada itu pun!
Mungkin sinarnya pernah menyilaukan
Lalu harapan melambung tinggi
Aku rasa senyum bukan akhir dari pencapaian
Menggenggam dan tiap kata yg tak terucap
Menjadikanmu lengkap
Tepat.

Jendela?

Hei jendela yg terkunci
Bagaimana caranya seseorang menggapaimu?
Aku menyebutnya sulit
Sangat susah juga melihatmu
Kemarin hujan lewat
Sengaja tak menepi, karena dilihatnya kau ingin sendiri
Tak ingin diganggu
Apalah maksudnya dengan diam tak bertatap
Bahkan siapapun tak pernah menyadarimu
Mari tinggalkan tanah dingin kosong itu
Pilu bila kau terus menjadi pemikir
Atau pemimpi?
Ahh sudahlah....
Ini sungguh terasa sulit
Untukmu dan untukku.

Kita tak bertatap

Kadang yg memisahkan bukan jarak
Tapi pandang
Kadang yg memisahkan bukan tempat
Tapi arah
Kadang yang memisahkan bukan orang lain
Hanya kita yang masih enggan
Kadang aku menepi
Mungkin saat itu kamu berlalu
Kadang aku kacau
Dan kamu sedang ingin senyap
Lalu,
Kita lelah!

GOOD bye (bukan BAD bye)

Kamu boleh berjalan mundur, berlari jauh
Silahkan!
Aku menari bersama ilalang
Tarian kebebasan
Kamu boleh tersenyum senang, tertawa bahagia
Terserah!
Aku menangis bersama tetes hujan
Tangisan kemerdekaan

Angin telah menemukanmu

Percaya atau tidak, kamu hanya punya 1 orang yg selalu menginspirasi bait-bait sajak dan puisi mengalir lancar di ujung jemarimu.

Angin mengoyak waktu
Usah lagi menunggunya
Tak ada lagi kesempatan mencarinya
Angin lewat sepintas lalu
Begitu pikirku
Tapi kamu menyapanya, meraihnya.
Kamu melihat, memperhatikan
Membuatnya terhenti dan menunggu
Sepertiku.
Tapi kamu menjemputnya
Angin sepoi sore itu,
Dan kalian berlalu.

Sungguh

Bumi tersenyum getir saat langit mulai basah.
"Ahh, aku pasti akan teringat lagi dengannya." Ucapnya.
Bumi tertawa untuk kekalahannya hari ini.
Bumi terhuyung ke pojok pagar rumah orang, entah siapa.
Menyepi & tak berpayung.
Bumi melebur, terbawa arus air di kakinya berpijak.
Seperti kenangan yang terbawa oleh derasnya hujan hari ini.
Bumi tersenyum pahit, mencibir ingatannya.
Bumi menyapu tetes hujan di pipinya.
"Anggaplah ini tetes hujan, berpura-puralah tak tahu bahwa ini kesedihanku yang luruh dalam gemuruh."

Timeline

follow!!!